Sabtu, 26 Januari 2019
On Januari 26, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
Tak banyak yang tahu siapa perempuan yang menjadi Ketua Muslimat NU
pertama. Dialah, Nyai Chadijah Dahlan, perempuan kelahiran tahun 1912 di
Pasuruan itu berkesempatan menjadi pemimpin Muslimat NU perdana.
Kepemimpinannya dimulai saat Muslimat NU lahir di Kota Purwokerto, Jawa Tengah
tepatnya tahun 1946. Kala itu, Muslimat NU memproklamirkan kelahirannya dan
menjadi titik awal kebangkitan perempuan NU dalam berorganisasi.
Nyai Chodijah memimpin ketika Muslimat NU masih bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM). Artinya, saat itu Muslimat tak lain lembaga organik yang menjadi bagian dari NU. Muslimat NU baru menjadi badan otonom setelah mendapat pengakuan dari forum Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952. Sayangnya, pemberian otonomi itu tak sempat disaksikan Nyai Chadijah yang wafat pada 1948 atau dua tahun masa kepemimpinan di Muslimat NU.
Nyai Chodijah tumbuh di Pasuruan yang dikenal dengan daerah santri. Pemikirannya tergolong merdeka dan sangat maju untuk ukuran zamannya. Terutama menyangkut permasalahan peran serta perempuan dalam organisasi yang kala itu dinilai termarginalkan.
Pokok pemikiran tentang ketidakadilan terhadap perempuan tercantum jelas dalam tulisan pendahuluan (mukaddimah) yang ditulisnya sebagai Ketua Muslimat NU pertama yang juga masuk dalam peraturan Chususi NU bagian Muslimat NU. Dengan tegas, Nyai Chadijah menyuarakan peran perempuan yang dianggap subordinat dan inferior. Karena itu dia memotivasi perempuan-perempuan turut serta tumbuh maju bersama kaum laki-laki.
Nyai Chodijah memimpin ketika Muslimat NU masih bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM). Artinya, saat itu Muslimat tak lain lembaga organik yang menjadi bagian dari NU. Muslimat NU baru menjadi badan otonom setelah mendapat pengakuan dari forum Muktamar ke-19 NU di Palembang tahun 1952. Sayangnya, pemberian otonomi itu tak sempat disaksikan Nyai Chadijah yang wafat pada 1948 atau dua tahun masa kepemimpinan di Muslimat NU.
Nyai Chodijah tumbuh di Pasuruan yang dikenal dengan daerah santri. Pemikirannya tergolong merdeka dan sangat maju untuk ukuran zamannya. Terutama menyangkut permasalahan peran serta perempuan dalam organisasi yang kala itu dinilai termarginalkan.
Pokok pemikiran tentang ketidakadilan terhadap perempuan tercantum jelas dalam tulisan pendahuluan (mukaddimah) yang ditulisnya sebagai Ketua Muslimat NU pertama yang juga masuk dalam peraturan Chususi NU bagian Muslimat NU. Dengan tegas, Nyai Chadijah menyuarakan peran perempuan yang dianggap subordinat dan inferior. Karena itu dia memotivasi perempuan-perempuan turut serta tumbuh maju bersama kaum laki-laki.
“Memang rupanya soal
perempuan kurang sekali dipedulikan, bukan saja anggapan umum demikian, tetapi
pemimpin-pemimpin juga masih kurang memperhatikan kaum wanita itu. Sikap
demikian itu salah belaka dan harus dilenyapkan...”
Dia juga dengan tegas menyatakan:
“Anggapan-anggapan
orang yang mengatakan bahwa kaum wanita itu harus tinggal di dapur saja
ternyata keliru dan berbahaya sekali bagi kemajuan pergaulan hidup manusia.”
Pemikiran-pemikiran itu sebagai bentuk jiwa organisatoris yang dimiliki
Nyai Chadijah. Dia belajar semangat berorganisasi dari didikan suaminya Muhamad
Dahlan yang saat itu juga sebagai Ketua Thanfidizah Pengurus Besar Nahdhatul
Ulama (PBNU). Suaminya pulalah yang turut serta menyuarakan pentingnya
organisasi perempuan NU sebagai wadah tanggung jawab perempuan NU untuk
berdakwah turut mengembangkan Islam. Dalam sejarahnya, KH Muhamad Dahlan
tercatat sebagai sosok pria utama di balik kelahiran Muslimat NU.
Sejak terbentuknya Muslimat NU, sebagaimana PBNU yang berpusat di Surabaya, Muslimat NU juga dipusatkan di Kota Pahlawan. Baru ketika terjadi revolusi tanggal 10 November, karena pertimbangan banyak hal saat itu, Kantor Pusat PBNU dan juga Muslimat dipindahkan ke Pasuruan yang tak lain adalah tempat domisili Nyai Chadijah. Pasca revolusi 10/November terjadi Clash I yang membuat KH Muhamad Dahlan dan keluarga pindah ke Madiun. Bersamaan itu pula, Kantor PBNU dan Muslimat NU dipindah ke kota itu. Namun, tak selang beberapa waktu terjadi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso dan memakan korban para ulama dan kaum muslimin. Tepat sebulan pasca terjadi pemberontakan, Nyai Chadijah Dahlan pulang ke hadirat Allah.
Berdasarkan riwayat hidupnya, Nyai Chadijah Dahlan merupakan tokoh Muslimat pertama yang memberikan pidato resmi sejak Muslimat menjadi organisasi dalam forum kongres pertama di Purwokerto. Bahkan, pidatonya dijadikan salah satu masukan dalam penyusunan peraturan Chususi NU bagian Muslimat. (Mahbib)
Sejak terbentuknya Muslimat NU, sebagaimana PBNU yang berpusat di Surabaya, Muslimat NU juga dipusatkan di Kota Pahlawan. Baru ketika terjadi revolusi tanggal 10 November, karena pertimbangan banyak hal saat itu, Kantor Pusat PBNU dan juga Muslimat dipindahkan ke Pasuruan yang tak lain adalah tempat domisili Nyai Chadijah. Pasca revolusi 10/November terjadi Clash I yang membuat KH Muhamad Dahlan dan keluarga pindah ke Madiun. Bersamaan itu pula, Kantor PBNU dan Muslimat NU dipindah ke kota itu. Namun, tak selang beberapa waktu terjadi pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Muso dan memakan korban para ulama dan kaum muslimin. Tepat sebulan pasca terjadi pemberontakan, Nyai Chadijah Dahlan pulang ke hadirat Allah.
Berdasarkan riwayat hidupnya, Nyai Chadijah Dahlan merupakan tokoh Muslimat pertama yang memberikan pidato resmi sejak Muslimat menjadi organisasi dalam forum kongres pertama di Purwokerto. Bahkan, pidatonya dijadikan salah satu masukan dalam penyusunan peraturan Chususi NU bagian Muslimat. (Mahbib)
Selasa, 22 Januari 2019
On Januari 22, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin
Iskandar atau Cak Imin dipastikan menjadi partai yang paling mendengarkan ulama
ataupun tokoh agama. Kepastian tersebut didapat dari hasil survei Lingkaran
Survei Indonesia (LSI) terbaru mengenai partai politik (parpol) yang paling
mendengarkan tokoh agama atau ulama.
"Dari
data ini publik memilih partai berciri Islam, yang lebih mendengar imbauan
ulama. Parpol tersebut adalah PKB di angka 82,7 persen itu manut (patuh) sama
ulama," terang peneliti LSI Ikrama Masloman, Rabu (14/11/2018).
Menurut
Ikrama, berada di bawah PKB, ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 79,4
persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 74,8 persen dan Partai Bulan Bintang
(PBB).
"Sedangkan
partai politik peserta Pemilu 2019 yang paling rendah dalam mendengar saran
ulama adalah Hanura di angka 33,3 persen dan Partai Perindo di angka 36,1
persen," katanya.
Survei tersebut, ungkap Ikrama, dilakukan pada 10-19 Oktober 2018 menggunakan
metode multistage random sampling dengan jumlah responden 1.200, melalui
wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of eror survei ini sebesar
kurang-lebih 2,8 persen.
Berikut ini persentase partai politik yang mendengarkan ulama:
1.
PKB: 82,7 persen
2. PPP: 79,4 persen
3. PKS: 74,8 persen
4. PBB: 66,7 persen
5. PAN: 56,5 persen
6. Demokrat: 55,0 persen
7. Gerindra: 51,9 persen
8. PDIP: 48,4 persen
9. Golkar: 48,1 persen
10. NasDem: 42,2 persen
11. Perindo: 36,1 persen
12. Hanura: 33,3 persen
13. Berkarya: NA
14. Garuda: NA
15. PSI: NA
16. PKPI: NA
17. Rahasia/tidak tahu: 45,8 persen.
2. PPP: 79,4 persen
3. PKS: 74,8 persen
4. PBB: 66,7 persen
5. PAN: 56,5 persen
6. Demokrat: 55,0 persen
7. Gerindra: 51,9 persen
8. PDIP: 48,4 persen
9. Golkar: 48,1 persen
10. NasDem: 42,2 persen
11. Perindo: 36,1 persen
12. Hanura: 33,3 persen
13. Berkarya: NA
14. Garuda: NA
15. PSI: NA
16. PKPI: NA
17. Rahasia/tidak tahu: 45,8 persen.
Minggu, 20 Januari 2019
On Januari 20, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
H. Abdul Malik Haramain atau akrab disapa Mas Malik
merupakan santri Probolinggo berlatarbelakang keluarga pesantren. Kakeknya, KH.
Fadhol adalah salah seorang ulama yang berpengaruh di Probolinggo pada era
kemerdekaan hingga zaman Orde Baru. Selain mengasuh PP. Raudlatut Thalibin,
Kademangan, Probolinggo, sosok ulama ini bukan hanya telaten mendidik santri,
melainkan sekaligus menjadi pelayan umat (khadim al-ummah).
Putri Kiai Fadhol, Hj. Siti Azizah, juga mewarisi darah
pendidik dari ayahnya. Nyai Azizah dikenal sebagai aktivis Muslimat NU tahun
1980-an. Ibunda Mas Malik ini juga dikenal telaten mendidik masyarakat,
khususnya kaum hawa. Nyai Azizah seringkali mendatangi langgar/ mushalla di
berbagai pelosok.
Tujuannya, mendidik ibu-ibu di bidang ibadah dan perkara
Fiqh An-Nisa’ alias fiqih perempuan. Dari tata cara wudlu, thaharah, mengenali
najis, hingga persoalan darah haid, istihadhah, wiladah, dan nifas. Semua dijalani
Nyai Azizah dengan penuh semangat dan kesabaran sebagai seorang
aktivis-pendidik.
“Dulu saya sering menemani Umi naik becak dan dokar untuk
rapat di Muslimat Probolinggo", kenang Mas Malik.
Aktivitas Nyai Azizah ini juga didukung sepenuhnya oleh suami
tercinta, KH. Abdul Mujib Abdullah. Kecintaan keduanya terhadap NU telah
membulatkan tekad mereka untuk mengabdikan diri pada umat. Jika Nyai Azizah
melalui wadah Muslimat NU, maka Kiai Mujib mengabdikan diri di PCNU Probolinggo
sebagai Ketua Tanfidziyah.
Ayah Mas Malik ini dikenal sebagai aktivis yang tangguh.
Baginya, mengabdi di NU adalah wasilah meraih ridla Allah. Prinsipnya,
sebagaimana dikemukakan kepada Mas Malik, adalah “Siap menjadi ujung tombak
sekaligus ujung tombok”.
Artinya, siap menjadi pelopor dan pemimpin, sekaligus siap
mengeluarkan uang (tombok) untuk berjuang di NU. Dari ayahnya pula, Mas Malik
belajar nahwu, sharaf, fiqh, dan tafsir. Dari ayahnya pula, Mas Malik mengenal
pemikiran Gus Dur, Kiai Wahid Hasyim, dan KH. M. Hasyim Asy`ari.
Karena dibesarkan di keluarga aktivis, tak heran jika
kemudian Mas Malik memilih berkiprah di organisasi underbow NU. Setelah menjadi
WaSekjend PMII, Mas Malik kemudian menjadi orang nomor satu di organisasi
pergerakan.
Terhitung pada 2003-2005 pria berkacamata ini menjadi Ketua
Umum PMII. Setelah itu, Mas Malik memilih mengabdi di GP Ansor sebagai
Sekretaris Jenderal (2005-2010).
Pengalamannya di PMII maupun di GP Ansor, membuktikan
apabila dirinya dibesarkan dalam kultur NU yang kuat. Sebagai kader PKB, Mas
Malik pernah menjabat sebagai Sekjend DKN Garda Bangsa.
Saat ini tercatat sebagai Wasekjend DPP PKB dan diberi
kepercayaan oleh Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar untuk menjadi Ketua
DPC PKB Kabupaten Probolinggo. Sedangkan latarbelakangnya sebagai putra
ulama menjadikan dirinya paham tradisi dan unggah ungguh (adab) kepada ulama
dan para habaib.
Karena itu, dia selalu ingat pesan ayahnya: menjadi ujung
tombak sekaligus ujung tombok! Saat ini Abdul Malik Haramain maju sebagai calon anggota DPR RI dapil Kabupaten/Kota Probolinggo dan Pasuruan dari Partai Kebangktan Bangsa (PKB).
Perjalanan Organisasi dan Karier H. A. Malik
Haramain :
1. Ketua Pansus UU
Ormas,
2. PANJA UU partai
politik,
3. PANSUS UU Desa,
4. PANJA UU Pilkada,
5. PANSUS UU Pemilu,
6. PANJA UU ASN,
7. PANJA UU Pemekaran Daerah,
8. PANJA UU Pertanahan,
9. Pimpinan PANJA RUU Haji dan Umroh,
10. Ketua
PANJA Biaya BPIH (menentukan biaya haji - umroh).
11. Anggota Komisi II periode 2009-2014.
12. Wakil
Ketua Komisi VIII (Pendidikan Agama, Sosial, Bencana, Pemberdayaan Perempuan
Dan Perlindungan Anak).
13. Sekretaris
Fraksi PKB MPR RI.
14. Anggota
Badan Legislasi periode 2009-2014 dan periode 2014-2019
15. Sekjen PP GP
Ansor (2005-2010)
16. Ketua Umum PB
PMII (2003-2005)
17. Pengasuh
Pondok Pesantren Roudhlotut Tholibin Kademangan Kota Probolinggo
18. Dosen
Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) Jakarta
19. Dosen
Institut Intelijen Negara (2005-2006)
20. Sekjen
DKN Garda Bangsa (2010-2015)
Karya Buku :
1. Gus Dur,
Militer dan Politik (LKiS) Yogyakarta
2. Penulis
tentang demokrasi, politik dan TNI di kompas, jawa pos, suara pembaruan dan
media lain
Pendidikan :
1. Mondok sejal kecil di Ponpes Roudlotut Tholibin
2. Mondok di Ponpes Miftachul Huda, Malang.
3. Kuliah : S1 di Univ Merdeka Malang Jurusan FISIPOL
4. Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) Jurusan
Political Science
Selasa, 15 Januari 2019
On Januari 15, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
Bagi sebagian manusia, kemuliaan adalah suatu hal yang sangat diidamkan
dalam kehidupan dunia. Tapi hal apa saja yang menunjukkan bahwa manusia itu
seorang yang mulia atau tidak dalam kehidupannya? Apakah karena harta, gelar,
jabatan, tampang atau lainnya?
Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i Lil Baihaqi, Imam Syafi’i
menjelaskan bahwa terdapat 3 hal yang menunjukkan kemuliaan seseorang. Hal itu
sebagaimana berikut:
كثمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني
Pertama, mampu
menyembunyikan kemiskinannya. Sehingga orang disekitarnya menyangka dia adalah
orang berada, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kehormatannya. Dan
juga agar tidak merepotkan orang lain.
وكثمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض
Kedua, mampu menyembunyikan
kemarahannya. Sehingga orang disekitarnya menganggap dia ridho, dan tidak ada
kemarahan sedikitpun ketika sedang menghadapi sesuatu yang tidak disenangi. Hal
ini sebagai upaya meminimasilasi konflik, dan munculnya prasangka buruk dari
orang lain terhadap diri sendiri.
وكثمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعم
Ketiga, mampu
menyembunyikan kesulitan dan kesusahannya. Sehingga orang disekitarnya
menyangka, bahwa dia orang yang penuh kenikmatan dan kecukupan.
Menjadi mulia adalah keinginan setiap manusia, namun tidak setiap manusia
mengetahui tentang hakikat kemuliaan.
Tiga hal yang menunjukkan kemuliaan seseorang yang diutarakan oleh Imam
Syafi’i, menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari seberapa
banyak gelar akademisnya, seberapa banyak hartanya, dan lain sebagainya.
Tetapi kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan atas ketaqwaan seseorang
kepada sang maha pencipta, yaitu Allah SWT. (Nur Hasan)
On Januari 15, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
Hj. Hudhaifah,S.H. (49) seorang wanita di Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten
Gresik, Jawa Timur mempunyai peran mulia yakni aktif di berbagai komunitas
sosial.
Perempuan
kelahiran Gresik tahun 1969 yang akrab disapa Mbak Eva ini mengaku sudah mengabdi ke berbagai organisasi sosial masyarakat sejak puluhan tahun.
“Alhamdulillah, saya
aktif di berbagai organisasi sejak SMP saya mendapat amanah menjadi ketua OSIS,
bekal tersebut mendorong saya terus mengabdi kepada umat diantaranya saya di
Fatayat NU, Klinik Kesehatan Mabarot NU, Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Kabupaten Gresik, Ketua Pembina Duta Fatayat Gresik, serta anggota DPRD
Kabupaten Gresik periode 2009-2014.” Tutur yuk Hudaifah yang juga Ketua PAC
Fatayat NU Kecamatan Manyar.
Dirinya yang
juga dewan penggurus MUI Kabupaten Gresik bidang pemberdayaan perempuan
mengungkapkan pilihannya mengabdi kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk
rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa taala untuk bisa menjadi makluk yang
bermanfaat antar sesama.
“Saya
termotivasi dengan hadist khairunnas anfa’uhum linnas , dimana saya ingin menjadi manusia yang bisa bermanfaat banyak
kepada orang lain. Salah satu upaya sayaa menyukuri karunia Allah Subhanahu wa
taala.” Papar Mbak Eva yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota DPRD
Kabupaten Gresik dapil Manyar, Bungah, dan Sidayu dari Partai KebangkitanBangsa (PKB).
Disinggung
seputar keputusanna kembali terjun ke dunia politik, tokoh wanita yang dikenal
sebagai srikandi DPRD Gresik karena sikap kritisnya selama menjadi DPRD Gresik
periode 2009 – 2014 menyatakan bahwa niatnya adalah ibadah dan melihat adanya
efektivitas dalam beraspirasi ketika berada di parlemen.
“Pertama, saya
niatkan beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Kedua, saya ingin mengabdi dan berperan lebih untuk kebaikan masyarakat. Ketiga, saya menyadari bahwa ketika aspirasi
disampaikan melalui wadah DPRD akan lebih banyak
didengar. Tak hanya itu, peran legislasi, penganggaran, dan pengawasan akan
lebih optimal dilaksanakan ketika berada di DPRD. Tentunya kita wajib amanah sebagai seorang wakil rakyat.” Tutupnya.
Senin, 14 Januari 2019
On Januari 14, 2019 by Wahyu Firmansyah No comments
GRESIK –
Calon anggota legislatif Kabupaten Gresik, Hj. Hudaifah, S.H. atau
yang akrab disapa Yuk Hudaifah menegaskan seni budaya pencak silat harus terus
dilestarikan karena merupakan seni bela diri khas nusantara warisan para
leluhur.
“Saya sangat
bersyukur, masih banyak pihak yang secara aktif melestarikan seni bela diri
khas Nusantara.”ungkapnya
Hal tersebut
diungkapkan Yuk Hudaifah pada
saat memberikan sambutan pada silaturrahmi Persatuan Pencak Silat Tongkat Putih
dan Paguyuban Pencak Silat se-Kecamatan Manyar, Bungah, dan Sidayu tadi malam
(12/01/2019) di Lapangan Manyar Sidomukti, Kabupaten Gresik.
Yuk Hudaifah yang juga
seorang aktivis sosial tersebut menyoroti semakin tingginya minat kaum hawa
mempelajari seni bela diri merupakan suatu hal yang positif untuk menjaga
keamanan diri secara mandiri.
“Ada yang unik dari
pengamatan saya, dimana semakin meningkatnya minat perempuan di dunia pencak
silat. Ini merupakan hal yang positif sebagai bekal menjaga diri dari
kemungkinan kejahatan yang semakin marak dewasa ini. Terlebih Gresik sebagai
kota industri tak sedikit wanita pulang tengah malam disaat pergantian shift.”
Tambahnya.
Wanita yang saat ini
maju sebagai calon anggota DPRD Gresik dari PKB dapil Manyar, Bungah, dan
Sidayu no urut 3 juga mendorong para pesilat untuk mengembangkan diri guna
berprestasi mengharumkan nama Indonesia di ajang Internasional.
Tak lupa, beliau
menyoroti perlunya perhatian khusus ada cabang olah raga pencak silat guna
mendapatkan fasilitasi, perhatian, dan pembinaan yang lebih
intensif. Tentunya perlu adanya keterlibatan pemerintah, stakeholder, dan juga
perguruan pencak silat. Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari para pesilat
yang memenuhi lapangan Manyar Sidomukti.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Popular Posts
-
H. Abdul Malik Haramain atau akrab disapa Mas Malik merupakan santri Probolinggo berlatarbelakang keluarga pesantren. Kakeknya, KH. Fa...
Blogger templates
Blog Archive
- Mei 2019 (1)
- Januari 2019 (6)
Mengenai Saya
Cari Blog Ini
Diberdayakan oleh Blogger.









